First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Iklan

Ya, aku rindu !

Aku rindu, namun jemu
Aku resah, namun tak tentu arah
Aku gundah, namun seolah patah
Dan aku risau, namun tak pernah rancau
Lalu aku candu, akan semua hal tentangmu, tentang bagaimana dirimu yang membuatku tersenyum, terluka, bahkan tiada.
Apa kau merasa?
Kurasa tidak

Semoga tak berbalas, dan berakhir dengan terhempas, agar aku merasakan sebuah “rindu tanpa balas, bahkan tak beralas ”

Derai.

Jika aku mampu terlelap, mungkin semua tak akan sederai ini
Jika aku bisa untuk tak mendengar,mungkin semua tak akan serancau ini
Maaf jika jiwa ini masih enggan untuk melabu
Bukan tak ingin, hanya saja naluriku sulit untuk bergeming
Jika pun aku mampu, mungkin kau telah tersayup, dan berakhir dengan meninggalkan aroma rindu

Kulihat kau berbayang, namun terlalu sulit untuk kugapai
mampukah lara ini tersenyum, atas apa yang telah aku lenyapkan? Bahkan ditiadakan
Rembulan pun tahu, seberapa berat ego tertahan, atas apa yang telah menjelmakan
Semoga puan mampu bertahan atas jera yang kau tuai

Aku-rindu

Tahu kah kau? seberapa banyak aku merindu?

jika kau tau luasnya lautan lepas , maka seperti itulah rinduku yang tak pernah berbatas

jika suatu saat nanti kau menemukan titik ujungnya

maka itu artinya rinduku hampir saja melambung, karena tak dapat lagi membendung

jika lautan dapat membuat garam

maka aku mampu membuat temaram

dan jika ombak dapat menghancurkan karang dengan cara mengikis

maka aku mampu membuatmu menghindari sebuah tangis

Sua-ku

Bumiku yang menjunjung tinggi

Tak akan indah apabila tanpa dunia dengan segala isinya

Jika setiap perjalananku tanpa jejak kaki

Maka tak akan pernah berwarna pada setiap langkahnya

 

Tawaku yang berwana adalah tanda gaduhnya rinduku akan dirimu

Langitku akan selalu cerah apabila aku terus bersamamu

Kusanjung dirimu agar tak pernah bosan untuk bersamaku

Tanpa jeda, kuukir bait cerita di dadamu

 

Rasanya rinduku tak akan pernah sempurna tanpa petikan sajak darimu

Tanpa bersua pun aku tahu, bahwa dirimu pun juga begitu

Jangan pernah berlari sendiri

Sebab nantinya kau tak akan pernah sampai untuk bertepi

 

Maka, berlarilah bersama dengan menggenggam jemariku

Tanpa kau lepas

Dan tanpa kau beri batas

Biarlah cintaku saat ini yang bersua tanpa tandas

Lelapku

aku menjelmakanmu dengan sepenuh asa

bagai bumi yang telah lapuk dimakan usia

tiada rindu yang dapat kuubah menjadi nada

tanpa hadirnya melodi bagai pena

 

meski mataku telah terpejam

namun, jiwaku tetap ingin bersama

sayup angin yang menyapa raga

tanpa ragu ia menyapa rasa

 

wahai dirimu…

mampukah aku menyapamu

tanpa kusentuh ataupun kuraba

tanpa tawa ataupun suara

 

jika berkenan…

ijinkan aku untuk menjelma dalam mimpimu

walau sekejap asal berada dalam angan

walau sesaat asal dapat menyerta dalam deru

 

kuakui jika aku terlampau menjadi abu

yang akan lenyap jika diterpa udara

yang tak akan nyata tanpa hadirnya rasa

selalu kusemogakan, semoga dirimu berada dalam limpahan cinta darinya

 

 

Short Trip

Bratislava

Ketika aku bersimpuh di hadapan teriknya surya, maka kuputuskan untuk berteduh dengan cara mengikuti kemana pun awan itu pergi. Kamera yang kusandang di leher kini mulai bergontai ke sana dan kemari mengikuti iramaku berjalan dan melompat. Pandanganku terhenti ketika dihadapkan dengan pemandangan yang luar biasa. Sebuah kastil tua yang bernuansa Eropa kini sedang di buka dan mengadakan sebuah pameran berbagai seni di dalamnya. Aku mulai memasuki kastil tersebut dan mulai melangkah lamat-lamat sambil menyaksikan lalu lalang orang dan menikmati setiap inci dari arsitektur yang menempel pada bangunannya. Tanganku dengan lincah memotret berbagai pemandangan yang berada di dekatku, sampai tak sadar bahwa aku telah menubruk seseorang dari belakang.

“Oh, i’m sorry Mister” aku langsung menundukan kepala seraya meminta maaf atas kecerobohanku, lantas melihat seseorang yang kutabrak tadi. Setelah kulihat, ternyata ia merupakan seorang Warga Negara Indonesia karena wajahnya yang memang Jawa tulen. “sekali lagi maaf pak maaf, saya tidak sengaja” ucapku karena merasa tak enak hati

“Sudah tidak apa, jangan terlalu berlebihan” pemuda itu pun menyunggingkan senyum. Aku mulai terpukau dengan pesona pemuda tersebut, pasalnya pemuda itu memiliki paras yang bisa dibilang banyak disukai oleh para wanita. Kusunggingkan senyum, membalas senyumannya. Syukurlah dia orang Indonesia, gumamku dalam hati.

“Kamu seorang photographer?” ia mulai membuka percakapan

“Oh tidak, saya hanya senang berkunjung ke tempat-tempat seperti ini” aku mulai berceloteh dengan disisipi senyum rikuh. Aku menilik si pemuda tadi, kutaksir usianya tak jauh beda denganku, lalu aku mulai menebak bahwa ia seorang photograper dan berpakaian layaknya seorang seniman, kemudian ia juga mengalungkan sebuah kamera sama sepertiku

Si pemuda itupun hanya menganggukan kepala. “Oh ya. Aku Bima Satya Dewa, kamu ?” ia mengulurkan tangannya kepadaku

“oh iya, aku Latungga Dewitra. Call my name is Latu, soalya nama Dewi udah kebanyakan” aku menjabat tanganya dan mengembangkan senyum

Nice name” ia hanya tersenyum “mau liat-liat lagi ?”ia bertanya, aku hanya menganggukan kepala dan mulai berjalan beriringan

Kami mulai melihat-lihat isi yang ada di dalam kastil, aku menikmati setiap ruangan yang terdapat di dalamnya dan mulai menggumamkan kata ‘Wah’ dalam batin agar tak terlihat norak di hadapan Bima, aku melihatnya mulai memotret berbagai View yang kami lewati. Senyum kecil mulai mengembang dari bibirku. Saat ia melihatku aku langsung mengalihkan pandangan agar ia tidak merasa risih dengan pandanganku.

“kamu udah selesai liat-liatnya?” ia mulai bertanya dan mendekatiku

“udah nih, kamu sendiri udah?” ia tak menjawab namun hanya menganggukan kepala dan memperhatikan hasil jepretannya

do you have free time?” ia mulai bertanya

yes, why?” aku berjalan menuju ke luar dan mendahuluinya. Aku memasukan tangan ke dalam parka yang kukenakan, karena udara sore di sini mulai terasa dingin

“mau minum bareng gak?” ia mengejarku setengah berlari dan saat ini ia berada di belakangku

Aku berbalik mengahdapnya “boleh” kemudian berjalan bersama

*

Dalam perjalanan mencari sebuah cafe, kami berbicara dan saling bertukar cerita hingga terawa. Sepanjang perjalanan kami lalui dengan berjalan, agar dapat menikmati setiap udara yang terdapat di kota yang bernuansa klasik ini. Eropa merupakan trip yang sudah ada di daftar perjalananku untuk berlibur, meskipun di Indonesia terdapat berbagai keindahan, entah mengapa aku lebih memilih Eropa kali ini. Setelah lama kami berjalan akhirnya Bima menemukan sebuah cafe yang ia maksud.

Ladies first” Bima membukakan pintu cafe untukku dan mempersilahkan aku masuk terlebih dahulu

Thanks” aku hanya terkikik melihat tingkahnya. Baru kali ini aku nyaman berkomunikasi dengan orang asing. Aku sengaja memilih tempat duduk yang dekat dengan kaca, agar dapat dengan mudah melihat pemandangan yang ada di luar, kemudian diikuti dengan Bima. Aku memesan secangkir Latte sedangkan Bima memesan secangkir Americano.

“jadi kamu ini seorang photographer?” aku mulai bertanya

“yaaa begitulah” ia hanya tersenyum lantas menaruh tasnya di bawah

Ternyata dugaan gue bener, dia seorang photographer bisikku dalam hati dan memalingkan wajah ke luar

“Apa kamu terbiasa berbicara dengan batinmu sendiri?” pertanyaanya kini membuyarkan lamunanaku. Bagaimana dia bisa tahu kalau gue barusan nebak, aku hanya mengembangkan senyum dan menyelipkan rambut ke telinga. Tak lama pesanan pun datang ke meja kami. Aku mulai memegang cangkir yang berisi Latte hanya sekedar untuk menghangatkan tanganku yang mulai membeku.

“dan tebakanmu benar” ia menajwab pertanyaanku yang ada di dalam hati

“bagaimana kamu bisa tahu?” aku bertanya karena mulai merasa heran dengan dirinya

your face” ia menunjuk wajahku dan mulai meneguk isi cangkirnya

my face?” aku langsung memegang kedua pipiku

Ia menaruh cangkirnya “keliatan dari muka” lalu ia tersenyum. Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya

“oh ya, kamu di sini lama Bim?” aku mulai menyeruput secangkir Latte

“cuman satu bulan, kamu?”

“lumayan juga ya, lusa juga pulang” aku mulai menyandarkan punggung ke kursi

Ia tersenyum “bentar amat?”

“iya, soalnya aku cuti cuman seminggu”

“oh sambil kerja, kerja di mana?”

“Di kantor penerbitan” Bima hanya menganggukan kepala mendengar jawaban dari ku lantas mengulurkan sesuatu

“nih punya kamu, tadi jatoh pas kita tubrukan” aku mengambilnya dengan kening mengerut dan membaliknya

“yaampun ID Cardku, aduh untung kamu nemuin. Kalo aku gak ngeh bisa-bisa aku nanti diceramahi bosku” aku tersenyum lega lalu memasukannya ke dalam tas “makasih ya”

“sip, lain kali jangan ceroboh” ucapnya memperingatiku “pulang yu, udah malem” ia mulai bernjak dan menuju kasir. Tak terasa waktu sudah malam, aku dan bima keluar dari cafe. Tadinya aku menolak untuk diantar pulang, dengan alasan bahwa tempat menginapku tak jauh dari tempat ini. Namun Bima tetap saja ingin mengantarku dengan alasan bahwa di sini banyak orang yang melakukan tindak kriminal.

Dalam perjalanan pulang, kami terus berceloteh dengan membagikan hal-hal terkonyol yang pernah kami alami. Tak lama, kini aku dan Bima telah sampai di depan Hotel tempatku menginap.

“makasih banyak udah nganterin” ucapku dengan senyum mengembang

oke, nice to meet you” tak lama ia melambaikan tangan kemudian berlalu pergi

*

Sesampainya di kamar, aku berbaring dan menatap langit-langit. Senyum tipis mengembang dari bibirku, aku bangkit lalu membawa tubuh ini ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Di bawah kucuran shower aku terus bernyanyi, karena hari ini merupakan hari yang menyenangkan dalam tripku kali ini. Tak lama aku ke luar dari kamar mandi dan mulai menyalakan laptop hanya sekedar untuk mengecek apakah ada email yang masuk atau tidak. Aku mulai mebuka email satu persatu, dan ada satu nama email yang baru masuk di sana. Aku mulai membuka dan membacanya.

From : Bima S Dewa

To : Latungga Dewi

Good night, senang berkenalan denganmu…

Aku berfikir, bagaimana dia bisa tahu alamat emailku, aku tersenyum kemudian membalasnya

From : Latungga Dewi

To : Bima S Dewa

Kok bisa tahu alamat emailku?

Aku mengubah posisi duduku menjadi tengkurap agar lebih nyaman, tak lama email dari Bima pun masuk.

From : Bima S Dewa

To : Latungga Dewi

Your ID, kenapa belum tidur?

Ternyata aku hampir lupa kalau di ID Cardku ada alamat emal, senyum dibibirku hari ini seakan tak pernah lenyap pada saat bertemu dengan Bima hingga sekarang. Malam ini aku habiskan dengan bertukar pesan dengannya, entah mengapa aku nyaman dengan orang yang baru kukenal ini, padahal aslinya aku selalu bersikap waspada terhadap orang baru. Tukar menukar pesan ini terjadi hingga aku tertidur dan hanya sempat membaca pesan dari Bima.

*

Tak terasa ternyata hari ini menjadi hari terakhirku di Eropa, sore ini aku habiskan dengan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah tanpa di temani oleh Bima. Tadinya Bima sempat menawarkan diri untuk menemani hari terakhirku di sini, tapi keadaan berubah karena ia harus melakukan pertemuan dengan seseorang yang menyangkut pekerjaannya. Setelah aku puas mengunjungi tempat bersejarah, barulah aku menempuh tujuan selanjutnya untuk pergi ke Bandara karena penerbanganku telah dijadwalkan sore ini. Dalam perjalanan menuju Bandara aku menikmati setiap sudut kota ini, dan berharap bahwa suatu saat nanti aku bisa mengunjunginya lagi.

Taxi yang aku tumpangi kini telah berhenti di sebuah Bandara dan langsung memberi uang kepadanya, kemudian sopir taxi pun membantuku untuk mengeluarkan koper. Lamat-lamat aku berjalan menuju ke dalam, aku melihat seseorang yang melambaikan tangan kepadaku dan langsung menghampiri.

“Bimaa” teriakku karena tak percaya bahwa ia akan mengantarkan perjalanan pulangku

“hey Latu” ia menyunggingkan senyum

“aku kira kamu masih ngadain pertemuan sama rekan kerja kamu” ucapku yang memukul bahunya

“udah selesai ko, terus aku liat jam dan langsung ke sini. Ternyata duluan aku ya” iya tertawa meledekku

“oh gitu, maksih ya udah nyempetin buat nganter aku pulang”

“wuuuu geer orang mau ketemu sama pramugarinya” ejeknya, lalu aku hanya mengerucutkan bibir, “eh sini deh” ia mulai menarikku lebih dekat

“apa?” aku mulai bertanya keheranan. Tak lama ia mengeluarkan sebuah kotak yang berisi kalung dan menempelkannya pada leherku

“nah untung pas” ia mulai melihatnya

“untuk apa? Sebagai tanda perpisahan?” aku bertanya dengan rasa sedih yang kututupi

No no no, sebagai tanda bahwa aku nyaman sama kamu dan—-“ Bima sengaja menggantungkan kalimatnya supaya rasa penasaranku bertambah

“dan apa?” aku mulai tak sabar dengan kalimat yang akan ia lanjutkan

“dan……… kamu udah berhasil dapetin hati aku, tau gak kenapa gantungannya kunci?” aku yang kini mulai salah tingkah dibuatnya semakin malu

“kenapa?” ucapku dengan rasa malu-malu

“karena hati aku udah dikunci, dan kuncinya ada sama kamu. Di jaga baik-baik ya” ia mengacak-ngacak rambutku dengan halus. Aku langsung memeluknya karena merasa diperlakukan istimewa olehnya dan ia pun membalas pelukanku. “nanti kalo aku udah pulang ke Indonesia, aku pasti langsung ngabarin kamu kok” ucapnya dengan mengelus rabutku.

Aku hanya menganggukan kepala karena merasa tak kuat untuk berbicara. Bima mulai melepas pelukanku dan membersihkan airmataku dengan tangannya

“udah jangan nangis nanti gak cantik lagi loh, kita gak lama ko pisahnya” ucapnya yang masih merapikan rambutku, “udah sana, nanti ketinggalan pesawat. Jaga diri baik-baik ya pincess, sebentar lagi aku nyusul ko”

Dengan berat hati aku mulai berjalan meninggalkannya dan mulai memasuki pintu menuju pesawat.

*

Setelah selesai mengantarkan Latu, Bima menyempatkan diri pergi ke sebuah cafe untuk menikmati secangkir kopi. Bima kini memposisikan dirinya duduk, seperti sewaktu ia bersama Latu meminum kopi bersama. Bima segaja memesan kopi Latte yang biasa Latu pesan sewaktu kemarin agar mampu mengurangi rasa rindu yang sedang ia rasakan saat ini.

Malam semakin larut, entah mengapa Bima masih betah duduk sendiri di Cafe ini dan mulai menapakan raut wajah yang gelisah

“Latu udah sampe belum ya” ia menggumam sendiri, kemudian menyeruput Americano yang mulai mendingin

Bima yang masih betah di cafe mulai melihat acara televisi yang di tayangkan di cafe tersebut, kemudian matanya langsung membeliak setelah melihat berita tentang kecelakaan pesawat dini hari. Jantungnya berdegub kencang dan nafasanya pun tak bisa ia atur dengan baik, mengingat bahwa ciri-ciri pesawat tersebut sama dengan pesawat yang Latu tumpangi saat itu.

Tanpa pikir panjang Bima langsung menuju ke Bandara dan mencari informasi tentang terjadinya kecelakaan pada pesawat yang ditumpangi oleh Latungga. Sesampainya di Bandara Bima langsung menghampiri kerumunana yang tengah menempelkan selembaran daftar nama penumpang yang selamat, tewas dan belum di temukan. Bima langsung menyerobot kerumunan itu dan langsung mencari nama Latungga Dewitra, lama ia mencari namun tak kunjung menemukanya, ia mulai mendesah frustasi.

Bima mencoba menghubungi ponsel Latu namun tak kunjung tersambungkan dikarenakan cuaca yang sedang buruk saat ini, kini ia menghampiri seorang petugas yang ditugaskan untuk menempel daftar nama penumpang yang menjadi korban.

excusme—“ namun sayangnya sebelum Bima melanjutkan kalimatnya ia langsung diusir oleh beberapa petugas karena dianggap dapat memicu keributan

what are you doing sir?” tanyanya dengan penuh amarah kepada seorang petugas yang mengusirnya “i just want to ask !” ucapnya dengan rasa murka yang tak bisa ia tahan, ia mulai mulai putus asa dan mulai berfikir untuk menyusul ke lokasi kejadian. Bima langsung berjalan dengan terburu-buru

“Bimaaaa” Bima berhenti saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang, kemudian membalikan badan

“Latungga” ia langsung menariku ke dalam pelukannya

“kamu kenapa ke Bandara dan kenapa kamu berntankan sekali?” aku bertanya keheranan

are you oke princess, gak ada yang lecet kan” ia melihatku dengan rasa khawatir yang brgitu luar biasa

why Bim,what’s wrong? I’m so fine Bim” aku memeluknya dan ia pun mulai tenang

“pesawat kamu kecelakaan Latu” ia memelukku dengan sangat erat

“sorry, aku lupa ngabarin kamu karena ponsel aku lowbet, pesawat aku di delay sampe besok sayang, karena cuaca lagi gak bagus” aku mulai melepaskan pelukannya

“syukurlah, i’m so scared kalo aku bakal kehilangan kamu” ia mengajakku untuk duduk di kursi yang telah di sediakan

never be honey” aku memberikan senyum langsung memeluknya

Seputik Benang Merah

Pada akhirnya mentari mulai tampak, setelah berpuluh-puluh hari lamanya ia muram. Sungging cahaya berada padanya, jutaan benih yang risau kini telah tumbuh bermekaran, oh senangnya hati bila sang pujangga mulai menyinari. Kini sang Dewi mulai menghampiriku dan berkata bahwa sang pujangga akan segera mengahmpiri ku, tatkala aku telah menunggunya sejak lama.

“hay Pruvian lily, tak sabar kah kau mendamba sang pujangga datang”

“oh tentu Dewi, namun akan kah ia sampai dengan tujuan yang tepat?”

“tentu Pruvian, jika dirimu mampu mengendalikan telepati  mu untuknya?”

“mengapa harus demikian Dewi ?”

“sebab telepati mu ibarat peta menuju jalan pulang baginya, jika telepati mu redup. Maka redup pula lah jalannya menuju pulang”

“jika telepati ini redup…….., lantas di manakah ia akan menetap”

“di penghujung wilayah yang mungkin terdapat para Coriander menetap”

“lantas apa yang harus aku lakukan jika telepati ini redup?”

“pecayalah Pruvian, jika telepatimu benar-benar menginginkannya, maka ia akan sampai pada tempat mu”

Tak lama sang Dewi pun berlalu pergi,  di sini hanya aku yang tak berwarna. Meski aku tahu semua putik akan berwana pada waktunya. Aku terdiam lalu mentabahkan telepatiku agar tetap benderang untuknya. Riuh terik mulai menyapaku saat ini, tak ada sayup yang melingkupi, tak ada pula jernih yang menyirami.

*

Dari hari ke hari putik ku kian pudar, aku melemah, tak mempunyai daya untuk kuncup. Oh putik mengapa kau tak bermetamorfosis? Apakah ini tanda jika benihku akan gagal?. Oh mentari, biarkan aku berfotosintesis agar mampu membantunya dalam menemukan jalan pulang, tak perduli seberapa banyak kumbang menyapa karena aku tak butuh sentuhannya.

*

Di samping itu, Crocus sedang berusaha secepat mungkin untuk terbang. Tanpa peduli seberapa dingin malam menyelimuti kulitnya, sebab benderang yang ia ikuti kian meredup. Kini pandangannya pun mulai terhalang oleh para Coriander yang terus menggodanya untuk menetap, namun dengan tekadnya yang kian bulat untuk menemui Pruvian semua itu ia kalahkan dengan sigap.

Dalam perlajanan yang sebentar lagi sampai, cahaya yang Crocus ikuti mulai menghilang dan iapun mulai kehilangan arah. Crocus berhenti sejenak di suatu wilayah, namun bukan wilayah Coriander. Crocus mulai menatap semesta untuk sejenak, entah mengapa semesta di sini sejuk, namun gelap tidak terdapat cahaya sepercik pun.

“Wahai Crocus, sesungguhnya Pruvian lily mu kini telah redup dan tak mungkin kau bisa menjemputnya” suara itu menggema, namun tak bisa ia temukan sosoknya

“kumohon beri aku duga tiba agar mampu menemukannya” Crocus berusaha meyakinkan sang suara

“sebenarnya, aku bukanlah angin yang turut andil dalam perjalanan kisah mu”

“lantas jika bukan dirimu, lalu siapa?” kini Crocus mulai murka

“tanyalah telepati mu sendiri, jika hati mu meminta dengan tulus, maka ia akan menerangi jalan mu kembali” ucapnya seraya menghilang dengan sayupan angin yang mulai merasuk

Crocus mulai kemali berfikir bagaimana caranya agar ia mampu menghidupkan cahaya untuk sang Pruvian. Kemudian ia menutup matanya dan menyakinkan hatinya agar terhubung dengan telepati milik Pruvian, berkali-kali ia mencoba namun tak kunjung berhasil dan membiaskan cahaya.  Karena ego yang masih ada dalam diri Crocus telalu besar maka hubungan telepati pun tak dapat terjalin, maka dari itu ia memutuskan semua ego yang ada pada dirinya agar mampu menghidupkan kembali sang Pruvian.

Lama ia menggumam dan meyakinkan hatinya, lalu tak lama juga ia pun mulai menemukan sedikit benderang lalu dengan sigap mulai mengikutinya lagi. Kali ini ia lakukan dengan lebih cepat, agar tak kehilangan untuk yang kesekian kalinya lagi.

*

Entah energi apa yang membuatku sampai saat ini bertahan untuknya yang tak kunjung datang, sejujujurnya dahan ini terlampau lemah untuk menopang ku. Saat ini redup-terang aku jalani agar dapat menstabilkan benderangku untuknya.

Sayup-sayup kudengar suara hembusan yang mulai menghapiriku, entah siapa itu, namun yang jelas saat ini aku tak dapat melihatnya kerena kini putik ku terlampau layu. Kemudian ia berbisik, namun aku tak dapat mendengarnya, mungkinkah ini akhir dari penantianku yang memang seharusnya ditakdirkan untuk gugur? Atau sebaliknya.

“Pruvian lily” perlahan kudengar suaraya

“aku Crocus” ia berusaha menggemakan dan merintikan ku agar tetap tumbuh dan terjaga

Lambat laun putikku mulai kuncup dengan ditandai adanya benang merah yang mulai menjuntai ke langit, kemudian aku tersadar bahwa kini Crocus telah bersamaku dan menaburkan berbagai asanya yang ia telah toreh.

Kini semesta mulai menyungging dan menyambut beragam warna yang ada padaku, dilatari jutaan lily yang berkembang dengan beragam ukuran dan warna. Aku ceria, pada semua sayup akan kisah yang terjadi pada Pruvian Crocus.

Relasi serpih

Aku

Manusia yang tak mempunyai jiwa, hirup ku hanya dalam sebuah tiruan yang tak pernah nyata. Pikuk dalam sebutir peluh menjadikan ku buih yang tak bermakna

Berbisik dalam senja dan berceloteh jika mentari mengingin, cukup hanya itu saja.

Jiwa muda yang tak mampu menerka, perihal rasa yang selalu ada namun tak pernah nyata. Duhai belas kasih atas risalah yang terdidih dalam seruan pencerita yang merana

Wahai sumbangsih terima kasih atas jiwa yang tersisih, demi segudang anca yang merintih. Dua hari lalu kami bercerita perihal luka yang bertanda perih, dalam beribu neuron yang tanpa pamrih

Sekian dan terima kasih.

Albumin

Takdir merupakan serangkaian putusan yang harus ku telusuri, jika aku berlari maka ia akan semakin kecang untuk dapat menghampiri

Terkadang risau selalu turut berkicau agar mampu mengacaukan suasana hati, lantas jiwa siapa yang mampu untuk menanggapi dalam hal ini

Siapa sangka sang pengumpat selalu turut hadir di setiap wacana dan berita, sungguh dalam hal satu ini rasanya lebur

Bayu…… bisakah kau sejukkan jiwa ku dalam sekejap, agar semua yang berkecamuk dapat mengalah karena mu 

Bayu…. taukah kau bahwa aku ini hanya seorang feminisme yang lemah, terkadang tak sanggup lagi akan kata pura-pura

Setelah sekian lama tumbuh akankah jiwa ini hasai dimakan waktu, namun nyatanya hujan seringkali mengguyur seakan jiwa ini tak dijinkan untuk cepat binasa

Tak mengapa jalan ku setapak, asalkan hijau dan rimbun dengan semua warna

Tak banyak yang ingin diucapkan dari seorang feminisme, hanya saja semua takdir itu indah apabila sekalian mampu bercocok dengan semua situasi yang pernah teralami